Silaturahmi dengan Wakil Walikota Bandung, gali hikmah Surat An-Naml: makar manusia takkan mampu mengalahkan ketetapan Allah
BANDUNG, 29 MEI 2026 – Bagi para pemimpin dan penegak hukum, kesuksesan dalam mengemban amanah tidak hanya diukur dari kemampuan profesional atau kekuasaan yang dimiliki, melainkan juga dari kematangan jiwa dan cara menyikapi dinamika kehidupan. Hal ini disampaikan oleh H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si. selaku Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional PERADI, usai melakukan silaturahmi dan pertukaran pandangan dengan Wakil Walikota Bandung, Kang Haji Erwin.
Pertemuan penuh keakraban tersebut menjadi wadah berharga untuk saling berbagi cerita, pengalaman, serta nasihat kehidupan. Melalui pertemuan ini, H. Yovie semakin memperkuat keyakinannya bahwa hakikat hidup bukanlah tentang siapa yang paling kuat atau paling berpengaruh, melainkan siapa yang mampu menjaga hati, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan senantiasa bersandar pada ketetapan Ilahi.
Hikmah Surat An-Naml: Keadilan Allah Mendahului Segala Rencana Buruk Manusia
Dalam pembahasan tersebut, Kang Haji Erwin menyampaikan dan menguraikan makna mendalam dari Surat An-Naml ayat 50–52 sebagai bahan renungan bersama.
“Kang Haji Erwin menyampaikan makna ayat tersebut dengan sangat menyentuh, bahwa ketika segelintir manusia sibuk menyusun makar, merencanakan kejahatan, atau berusaha menjatuhkan orang lain dengan berbagai cara, sesungguhnya Allah SWT telah lebih dahulu menyiapkan keadilan dan jalan keluar-Nya. Segala rencana buruk yang disusun sebaik dan serapi apapun, tidak akan pernah mampu melampaui kekuasaan serta ketetapan Allah Yang Maha Adil,” ungkap H. Yovie, menyampaikan pesan yang disampaikan Wakil Walikota Bandung.
Penjelasan tersebut menjadi titik terang yang memperkaya wawasan beliau dalam menyikapi berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi dalam menjalankan tugas maupun kehidupan sehari-hari.
Bijak Menyikapi Fitnah dan Tantangan: Menahan Diri adalah Tanda Kekuatan Jiwa
Berdasarkan hikmah yang disampaikan, H. Yovie menarik pelajaran penting mengenai sikap yang tepat dalam menghadapi fitnah, tuduhan, maupun serangan dari pihak lain.
“Dari penjelasan tersebut kita belajar: tidak semua fitnah perlu dibalas dengan fitnah, dan tidak semua serangan harus dijawab dengan serangan. Ada kalanya sikap terbaik yang bisa kita ambil adalah tetap teguh pada kebenaran, bekerja dengan tulus, dan menyerahkan segalanya kepada keadilan Allah SWT. Karena pada akhirnya, Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Pembalas. Kebenaran akan terungkap dengan sendirinya, dan setiap perbuatan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal,” tegasnya.
Beliau menambahkan bahwa sikap menahan diri dan tidak terprovokasi bukanlah bentuk kelemahan, melainkan cerminan kekuatan jiwa, kematangan berpikir, serta kepercayaan yang utuh kepada Sang Pencipta. “Sebagai penegak hukum dan pemimpin masyarakat, kita harus menjadi teladan dalam bersikap bijak, tidak terbawa emosi, dan selalu berlandaskan pada nilai-nilai kebenaran serta ajaran agama,” ujarnya.
Silaturahmi dan Persahabatan sebagai Penguat Amanah
H. Yovie juga menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas terjalinnya persahabatan yang penuh manfaat dan silaturahmi yang membawa keberkahan.
“Bersama sahabat seperti Kang Haji Erwin, kita saling menguatkan, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan saling berbagi pandangan agar semakin matang dalam mengemban tanggung jawab. Pertemuan seperti ini menjadi pengingat bahwa kita tidak berjalan sendirian, dan dukungan serta doa dari sesama yang baik adalah kekuatan besar yang tak ternilai harganya,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, beliau berdoa agar Allah SWT senantiasa menjaga langkah, menyucikan niat, serta mempermudah segala amanah yang diemban demi kepentingan umum dan kebaikan bersama.
(Redaksi)
