JAKARTA – Ketua LBH Mahajaya, Emanuel Mikael Kota, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Karena menggunakan anggaran negara dalam jumlah besar, pelaksanaan program tersebut harus mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, serta pengawasan publik yang kuat.
Pernyataan tersebut disampaikan Emanuel menyusul pelantikan Kepala Badan Gizi Nasional yang baru oleh Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, keberhasilan sebuah kebijakan publik tidak cukup diukur dari narasi politik yang menyertainya, melainkan dari kualitas tata kelola dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Pria yang akrab disapa Manche itu menilai kritik terhadap Program MBG seharusnya dipandang sebagai bagian dari mekanisme kontrol dalam negara demokrasi. Kritik yang disampaikan secara konstruktif, kata dia, justru diperlukan agar pelaksanaan program berlangsung efektif, efisien, dan benar-benar tepat sasaran.
Emanuel mendorong agar implementasi Program MBG dilakukan secara bertahap dan terukur dengan memprioritaskan kelompok masyarakat yang paling membutuhkan, seperti wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), daerah dengan angka stunting tinggi, serta keluarga miskin dan rentan miskin. Dengan pendekatan tersebut, penggunaan anggaran negara dinilai akan lebih optimal dan memberikan manfaat yang nyata.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan Program MBG tidak hanya diukur dari banyaknya makanan yang dibagikan, tetapi juga dari dampak nyata terhadap peningkatan status gizi anak, penurunan angka stunting, serta pengelolaan anggaran yang bersih, efisien, dan bebas dari praktik korupsi.
Selain itu, Emanuel meminta pemerintah terus memperkuat tata kelola Program MBG melalui keterbukaan dalam proses pengadaan maupun penggunaan anggaran, sekaligus memberikan ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk melakukan pengawasan dan evaluasi.
“Negara yang kuat bukanlah negara yang anti terhadap kritik, melainkan negara yang menjadikan kritik sebagai sarana memperbaiki kebijakan. Program MBG akan menjadi warisan yang bernilai apabila benar-benar berpihak kepada anak-anak yang paling membutuhkan, bukan dijadikan instrumen politik,” tegas Emanuel.
Redaksi
