Ketua Bidang Penelitian DPN PERADI Federasi Bar Indonesia Tegaskan: Demokrasi Butuh Kesetiaan pada Prinsip, Bukan pada Posisi
JAKARTA, 2 OKTOBER 2026 — Ada pola yang makin sering terlihat di panggung publik: seseorang berbicara lantang, mengkritik tajam, mengangkat isu yang membakar semangat rakyat — hingga akhirnya menerima tawaran jabatan, lalu seketika berubah haluan. Fenomena ini bukan sekadar perubahan sikap, melainkan strategi terencana yang menggerus kepercayaan publik.
Demikian ditegaskan oleh Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., CLA., Ketua Bidang Penelitian, Publikasi, dan Pengembangan Organisasi DPN PERADI Federasi Bar Indonesia. Baginya, apa yang terjadi di hadapan mata kita adalah bukan sekadar soal etika pribadi, melainkan penyakit yang perlahan melumpuhkan demokrasi.
Kritik yang Bukan untuk Memperbaiki, Melainkan untuk Menawar
Oki menjelaskan bahwa banyak suara lantang yang kita dengar saat ini tidak lahir dari kepedulian, melainkan perhitungan. Kegaduhan diciptakan bukan untuk membangun kesadaran, melainkan untuk membangun harga diri di mata kekuasaan.
“Ketika seseorang tampil menyerang, ia sebenarnya sedang menampilkan diri. Ia sedang menilai seberapa besar perhatian yang bisa ia kumpulkan, lalu menjadikannya modal untuk ditukarkan. Bagi mereka, ruang publik bukan tempat memperjuangkan kebenaran, melainkan pasar pencari perhatian,” ujar Oki.
Setelah perhatian terkumpul, langkah berikutnya tinggal menunggu pintu dibuka. Begitu tawaran jabatan datang, seluruh kritik yang dibangun akan ditarik kembali, digantikan oleh kepatuhan tanpa syarat.
Pelacuran Intelektual: Menukarkan Prinsip dengan Kursi
“Inilah yang saya sebut pelacuran intelektual,” tegas Oki. “Segala alasan, semangat, dan nama rakyat yang dibawa di mulut ternyata hanyalah bungkus. Tujuan akhirnya satu: masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, apa pun harganya.”
Perubahan sikap yang mendadak bukan tanda kedewasaan, melainkan bukti bahwa sejak awal tidak ada pendirian yang kokoh. Yang ada hanyalah kepentingan yang menunggu saat yang tepat untuk diuangkan.
Kerusakan yang Ditinggalkan: Rakyat Menjadi Korban Paling Akhir
Jika ini terus dibiarkan, kerusakannya akan menjalar ke mana-mana:
– Masyarakat menjadi sinis — Semua orang yang bersuara jujur ikut dicurigai. Rakyat tidak lagi membedakan mana pembela kebenaran dan mana pencari perhatian.
– Orang berintegritas tersisih — Yang pandai berteriak dan menjilat mendapat tempat; yang bekerja tulus dan diam justru terpinggirkan.
– Negara kehilangan arah — Pejabat yang lahir dari pertukaran kepentingan tidak akan melayani rakyat. Fokusnya hanya satu: menjaga posisi yang sudah didapat.
Konsistensi Lebih Berharga daripada Jabatan
Di akhir pernyataannya, Oki mengingatkan: demokrasi tidak akan selamat jika digerakkan oleh orang-orang yang berubah arah sesuai angin kekuasaan.
“Kita tidak butuh orang yang paling lantang saat di luar, lalu paling diam saat sudah di dalam. Kita butuh mereka yang tetap sama — kata dan perbuatan — baik saat berada di atas maupun di bawah. Kesetiaan pada prinsip jauh lebih berharga daripada jabatan apa pun,” pungkasnya.
Demokrasi bertahan bukan karena banyak yang berbicara, tetapi karena banyak yang tidak berubah arah.
(Red)
