Mengurai Makna Keberadaan, Berlandaskan Ayat Suci Al‑Qur’an dan Hadis Nabi Lengkap Riwayatnya
SURABAYA, 14 JUNI 2026 – Merenungi makna keberadaan diri sering kali membawa manusia pada pemahaman akan dimensi lain yang tidak kasat mata, namun menjadi nyawa dari kehidupan itu sendiri. Dalam pandangan Islam, memahami hakikat diri adalah langkah awal menuju ma’rifatullah, pengenalan sejati kepada Sang Pencipta. Hal inilah yang menjadi fokus penjelasan mendalam dari Gus. H. Rochmad Hidayat, S.H., selaku Pendiri sekaligus Pembina Komunitas Sahabat Rahmatan Lil Alamin (RLA), saat mengurai makna hakikat spiritual manusia.
Menurut Gus. Rochmad, hakikat spiritual adalah esensi non‑material yang menjadi inti keberadaan manusia. Di dalamnya bersemayam rasa keterhubungan abadi dengan Sang Pencipta, pencarian makna hidup yang hakiki, serta nilai‑nilai luhur yang bersifat universal dan melampaui sekat‑sekat duniawi.
“Hakikat spiritual itu adalah inti dari diri kita. Ia adalah rasa yang menghubungkan kita dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari diri sendiri, yaitu Allah SWT. Di dalamnya ada pencarian makna, ada kerinduan, dan ada kesadaran bahwa kita hanyalah makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada‑Nya. Konsep ini mencakup kecerdasan hati, penanaman nilai ilahiah, hingga kebangkitan jiwa untuk kembali kepada fitrahnya,” jelas Gus. Rochmad, yang dikenal sebagai tokoh pembina umat yang konsisten menyebarkan nilai‑nilai rahmatan lil alamin.
Pemahaman ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al‑Qur’an Surah Adz‑Dzariyat ayat 56:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (mengenal dan menyembah) kepada‑Ku.”
Ayat ini menjadi landasan bahwa keberadaan manusia dan dimensi spiritualitasnya diciptakan dengan satu tujuan mulia: mengenal, menyayangi, dan mengabdi kepada Sang Pencipta.
Rasa: Penghubung Ilmu dan Kehidupan Hati
Poin paling mendasar yang ditekankan Gus. Rochmad adalah kedudukan “rasa” sebagai elemen paling vital. Menurutnya, seseorang bisa saja memiliki banyak ilmu dan fikiran yang cerdas, namun tanpa rasa, ilmu itu hanya menjadi teori kering. Sebaliknya, hati yang lembut tanpa bimbingan fikiran bisa saja tersesat. Di sinilah letak keutamaan rasa.
“Diperlukan rasa sebagai penghubung antara fikiran dan hati. Fikiran adalah tempat ilmu, hati adalah tempat nur, namun rasa adalah tempat di mana keduanya bertemu dan menjadi amal yang dirasakan keberkahannya. Tanpa rasa, ibadah menjadi rutinitas, ilmu menjadi beban, dan hubungan dengan Allah menjadi jauh,” tegas Gus. Rochmad.
Pandangan ini sangat selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan secara lengkap oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, melalui jalur periwayatan dari sahabat An‑Nu’man bin Basyir RA, di mana Beliau bersabda:
“Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh itu, dan jika ia buruk maka buruklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah, ia adalah hati.”
(HR. Bukhari No. 52; Muslim No. 1599)
Gus. Rochmad menafsirkan hadis mulia ini secara utuh. Beliau menjelaskan bahwa hati yang dimaksud adalah hati yang hidup, hati yang memiliki rasa. Hati yang mampu merasakan kebesaran Allah, merasakan manisnya iman, dan merasakan kasih sayang sesama makhluk. Riwayat ini menegaskan bahwa pusat segala perbuatan, niat, dan kualitas diri manusia berpusat pada kondisi hati dan rasa yang ada di dalamnya.
Spiritualitas Universal Ala Rahmatan Lil Alamin
Sebagai Pembina Sahabat Rahmatan Lil Alamin, Gus. Rochmad mengajarkan bahwa spiritualitas sejati tidak terbatas pada ritual ibadah semata, namun harus tercermin dalam sikap hidup. Spiritualitas yang hakiki adalah yang melahirkan kedamaian bagi diri sendiri dan kebermanfaatan bagi sesama, sesuai makna Rahmatan Lil Alamin: rahmat bagi seluruh alam semesta.
“Kebangkitan spiritual itu bukan membuat kita menjauh dari dunia, tapi membuat kita lebih hadir dan bermanfaat di dunia dengan hati yang selalu terhubung kepada Allah. Nilai‑nilai spiritual itu universal: jujur, amanah, kasih sayang, dan rendah hati. Itulah bukti kita mengenal hakikat diri kita sebagai manusia yang mulia,” tambahnya.
Menutup penjelasannya, Gus. Rochmad mengajak seluruh umat untuk kembali menghidupkan rasa dalam setiap gerak kehidupan. Sebab, dengan rasa yang terhubung antara fikiran dan hati, manusia akan menemukan kedamaian sejati, memahami makna keberadaan, dan mampu menjalani hidup sebagai rahmat bagi alam semesta.
(Tim Redaksi)
