Hakikat Pengorbanan: Bukan Sekadar Yang Terlihat Mata, Tapi Yang Terasa di Hati
SUMEDANG, 27 MEI 2026 – Hari Raya Idul Adha adalah cahaya yang dihadirkan Allah SWT untuk menerangi hati yang mulai tertutup debu dunia. Ia bukan sekadar perayaan atau rangkaian ibadah yang tampak lahiriah, melainkan momen istimewa untuk menyelami makna cinta sejati, ketaatan tanpa syarat, serta keikhlasan yang murni hanya demi ridha-Nya.
Pesan yang menyentuh relung jiwa ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERADI, H. Yovie Megananda Santosa S.H., M.Si, saat berdiri di mimbar Masjid Nurul Panunjang, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara, menyampaikan khutbah Idul Adha di hadapan jamaah yang hadir dengan hati yang terbuka dan penuh pengharapan.
Zaman yang Menguji: Pandai Menampakkan Indah, Namun Lupa Menjaga Isi Dada
Dalam ucapannya yang sarat makna, beliau mengajak para hadirin merenungi kondisi diri dan zaman yang kita jalani kini. Di tengah kemajuan yang semakin pesat, manusia semakin pandai menyusun kata-kata indah, semakin terampil menampakkan kesempurnaan, dan semakin fasih berbicara tentang kebaikan. Namun sayangnya, seringkali kita lupa memeriksa apa yang tersimpan di dalam dada, lupa merawat kebersihan hati, dan lupa bahwa yang paling utama di hadapan Allah bukanlah apa yang terlihat orang lain, melainkan apa yang kita sembunyikan dengan ikhlas hanya untuk-Nya.
“Di masa ini, kita semakin pintar memperindah apa yang tampak, namun semakin lalai memperbaiki apa yang tersembunyi. Banyak yang terlihat bahagia di luar, padahal hatinya sepi dan jauh dari Allah. Banyak yang bergelimang harta, namun miskin rasa syukur. Banyak yang memegang kekuasaan, namun lupa bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan semata,” ujarnya dengan nada yang menyejukkan hati.
Beliau mengingatkan, esensi Idul Adha mengajarkan satu kebenaran yang paling dalam: tidak semua yang kita cintai harus menjadi milik kita, namun segala apa yang Allah titipkan kepada kita, wajib kita syukuri, kita jaga, dan kita kembalikan kepada-Nya dalam keadaan yang paling baik.
Teladan Agung Nabi Ibrahim AS: Ujian Terbesar Adalah Melepaskan Apa Paling Disayangi
Beliau kemudian mengangkat kisah suci Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sosok teladan cinta dan ketaatan sejati. Beliau diuji Allah bukan dengan hal yang tidak disukainya, melainkan dengan sesuatu yang paling dicintai, paling disayangi, dan menjadi kebahagiaan terbesar hidupnya: putra tercinta Nabi Ismail ‘alaihis salam.
Dari peristiwa mulia itu, kita diajak memahami makna ujian yang sesungguhnya: bahwasanya yang paling berat bagi seorang hamba bukanlah saat ia kekurangan, melainkan saat ia harus melepaskan apa yang paling ia banggakan, paling ia sayangi, dan paling sulit untuk ia lepaskan, semata demi kehendak Allah SWT.
“Sering kali, ujian terbesar kita bukan karena kita tidak punya apa-apa, tapi karena kita belum sanggup mengikhlaskan apa yang kita miliki dan kita cintai untuk ridha Allah,” tambahnya penuh hikmah.
Yang Sampai ke Hadirat Allah Adalah Ketakwaan, Bukan Sekadar Bentuknya
Lebih lanjut, beliau mengingatkan kembali firman Allah SWT yang menjadi pedoman ibadah kurban, dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
“لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ”
(Lan yanālallāha luḥūmuhā wa lā dimā’uhā wa lākin yanāluhut-taqwā minkum)
Artinya: “Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dan kesucian hatinyalah yang sampai kepada-Nya.”
Berdasarkan ayat mulia ini, beliau menegaskan dengan lembut namun tegas: Allah tidak melihat kemewahan yang kita miliki, tidak melihat besarnya jabatan yang kita sandang, tidak pula melihat mahalnya hewan yang kita sembelih. Penilaian Allah jauh melampaui segala yang tampak mata; Allah hanya melihat hati yang bersih, niat yang tulus, dan ketaatan yang penuh cinta.
“Wahai kaum muslimin yang dirahmati Allah, ingatlah: hari ini Allah tidak bertanya seberapa banyak harta kita, tidak seberapa tinggi pangkat kita, dan tidak seberapa indah penampilan kita. Namun Allah bertanya: seberapa bersih hatimu dari penyakit hati? Seberapa lembut lisamu kepada sesama? Seberapa sabar hatimu saat diuji? Dan seberapa tulus dirimu kembali dan berserah diri hanya kepada-Nya?” tegasnya.
Beratnya Hidup Karena Hati Jauh dari Allah dan Hilangnya Syukur
Beliau juga menyentuh rasa berat dan kesedihan yang sering dirasakan banyak orang saat ini. Sering kali kita merasa sedih, gelisah, dan hidup terasa begitu berat bukan karena kekurangan materi atau kesulitan hidup, melainkan karena hati kita perlahan menjauh dari Sang Pemilik Hidup, serta hilangnya rasa syukur yang menjadi kunci ketenangan jiwa.
“Sering kita menangis bukan karena tidak punya apa-apa, tapi karena hati terasa sepi dan jauh dari Allah. Sering hidup terasa berat bukan karena masalahnya terlalu besar, tapi karena kita lupa bersyukur atas nikmat yang setiap detik Allah berikan,” ujarnya menyentuh kalbu para hadirin.
Titik Balik: Memperbaiki Diri, Menyambung Kasih Sayang
Di akhir pesannya, beliau mengajak seluruh umat untuk menjadikan Idul Adha ini sebagai titik balik menyucikan hati, merapikan hubungan dengan Allah, serta mempererat tali kasih sayang antar sesama.
Beliau mengingatkan dengan penuh kelembutan, bahwa segala kemegahan dan kebanggaan duniawi hanyalah bayangan yang akan hilang, tidak ada yang bisa kita bawa saat kita dipanggil pulang.
“Mari di hari yang mulia ini kita saling memaafkan, kita lunakkan hati yang sempat mengeras, kita buang rasa sombong dan tinggi hati, serta kita berhenti menyakiti hati sesama. Ingatlah, nanti di alam kubur, yang akan menjadi teman dan cahaya bukanlah harta, jabatan, atau pujian manusia. Yang bermanfaat hanyalah doa anak yang saleh, amal yang ikhlas semata karena Allah, serta hati yang selalu bersih dan tunduk kepada kehendak-Nya.”
Pesan penuh berkah ini ditutup dengan doa permohonan ampun dan rahmat bagi seluruh umat:
“وَلَكُمْ مِنِّي اللَّهُ وَأَسْتَغْفِرُ هٰذَا قَوْلِي وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ”
(Aqūlu qaulī hādzā wa astaghfirullāha lī wa lakum)
Artinya: “Demikianlah yang dapat saya sampaikan, dan saya memohon ampun serta keampunan kepada Allah untuk diri saya sendiri dan untuk kalian semua.”
Pemaparan yang menyatukan nilai suci Al-Qur’an, teladan para nabi, serta renungan yang dalam ini mengajarkan satu kebenaran yang abadi: makna Idul Adha yang sejati terletak pada kebersihan hati, keikhlasan yang murni, serta penyerahan diri yang penuh cinta hanya kepada Allah SWT.
(red)
