Pandangan Reflektif Dewan Pembina Sahabat Rahmatan Lil Alamin Menjaga Keutuhan NKRI di Tengah Keberagaman
JAKARTA, 12 JUNI 2026 – Laju perubahan sosial‑politik dan derasnya arus informasi yang belum tentu akurat kini menjadi tantangan nyata bagi keutuhan bangsa Indonesia. Identitas bangsa yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan—yang sejatinya adalah kekayaan terbesar—kini menghadapi ujian berat akibat maraknya narasi provokatif yang berpotensi merobek kebersamaan. Menanggapi situasi ini, Gus. H. Rochmad Hidayat, S.H., selaku Dewan Pembina Sahabat Rahmatan Lil Alamin (RLA), menyampaikan pandangan mendalamnya yang menegaskan: menolak provokasi dan menjaga persatuan adalah syarat tak tergantikan untuk menjamin keamanan, kestabilan, dan kemajuan peradaban bangsa di masa kini maupun masa depan.
Bagi Gus. Rochmad Hidayat, Indonesia lahir dan berdiri tegak bukan karena keseragaman, melainkan karena kemampuan menyatukan perbedaan di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam pandangannya, persatuan bukan sekadar konsep politik atau aturan hukum, melainkan kebutuhan mendasar sosiologis sekaligus amanah moral‑spiritual yang menjadi nyawa kehidupan berbangsa. Oleh sebab itu, segala upaya yang bertujuan memecah belah, mengadu domba, atau menanamkan benih kebencian harus dipandang sebagai musuh bersama yang mengancam eksistensi negara.
“Kita sepakat bahwa kekuatan Indonesia ada pada kemampuan kita merangkai beragam potensi menjadi satu kekuatan besar. Namun saat ini, tantangan datang dari hal yang sering kita remehkan: provokasi yang menyebar lewat mulut ke mulut maupun media sosial, yang sengaja dibuat untuk mengungkit isu sensitif, memicu gesekan, dan merusak ikatan persaudaraan yang telah dibangun darah dan air mata pendahulu kita. Di titik inilah, kecerdasan dan ketahanan sosial masyarakat kita diuji. Ingatlah, saat persatuan goyah, keamanan pasti terganggu. Tanpa rasa aman, mustahil kita bisa membangun ekonomi, pendidikan, atau peradaban yang maju. Sejarah telah berulang kali mengajarkan bahwa perpecahan adalah pintu masuk kehancuran sebuah bangsa,” ujar Gus. Rochmad Hidayat dalam pemaparannya.
Provokasi: Ancaman Nyata yang Menggerus Fondasi Sosial
Secara mendasar, Gus. Rochmad Hidayat memandang provokasi sebagai gangguan serius terhadap tatanan sosial, yang bekerja dengan cara merusak kepercayaan antarkelompok. Biasanya, provokasi hadir berbalut informasi yang terpotong‑potong, tidak lengkap, atau sengaja dimanipulasi, tujuannya hanya satu: membakar emosi, menumbuhkan kecurigaan, dan melahirkan permusuhan. Di era digital seperti sekarang, penyebarannya begitu cepat, sering kali melewati akal sehat dan norma etika.
“Provokasi itu bekerja dengan cara menyederhanakan masalah rumit menjadi pertentangan semu: ‘kelompok kita melawan kelompok mereka’, ‘yang ini benar, yang itu salah’. Ini sangat berbahaya karena menutup ruang dialog, menghapus toleransi, dan mematikan keinginan saling memahami. Jika dibiarkan, sikap saling curiga akan mengeras menjadi prasangka, lalu meledak menjadi konflik terbuka. Dampaknya jangka panjang sangat berat: hilangnya rasa aman, biaya sosial dan politik yang membengkak, serta pembangunan yang terhenti. Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang bisa maju dengan pesat jika rakyatnya saling bermusuhan dan tidak saling percaya. Oleh karena itu, sikap tenang, berpikir kritis, dan menolak ikut terprovokasi adalah cara paling sederhana namun paling strategis untuk menjaga kestabilan negara,” tegasnya.
Pandangan ini sejalan dengan nilai‑nilai luhur Islam sebagai landasan moral, sesuai sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:
“Janganlah kamu saling membenci, janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling membelakangi, dan jadilah kamu hamba‑hamba Allah yang bersaudara. Haram bagi seorang Muslim memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga hari.”
(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
“Dalil ini menegaskan bahwa hidup rukun bukan sekadar anjuran, tapi tujuan agama dan fondasi masyarakat. Menyebarkan kebencian atau ikut terhasut provokasi adalah tindakan yang bertolak belakang dengan semangat persaudaraan dan kepentingan umum. Berbeda pendapat itu wajar, itu tanda kehidupan berpikir. Tapi bercerai berai dan bermusuhan adalah kegagalan besar yang harus kita cegah bersama,” tambah Gus. Rochmad Hidayat.
Persatuan: Satu‑satunya Jalan Menuju Keamanan dan Kemajuan
Dalam pandangan kausalitas yang dikemukakannya, Gus. Rochmad Hidayat menegaskan hubungan tak terpisahkan antara tingkat persatuan dengan tingkat keamanan dan kemajuan negara. Keamanan, menurutnya, bukan hanya tugas aparat keamanan, melainkan hasil kesadaran bersama warga negara untuk menjaga keharmonisan. Demikian pula kemajuan; tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan alam atau teknologi, melainkan sangat bergantung pada suasana damai, rasa aman, dan kerja sama antarelemen bangsa.
“Lihatlah negara‑negara maju di dunia. Kunci keberhasilan mereka bukan hanya ekonomi tinggi, tapi terutama rasa percaya sosial yang kuat dan persatuan yang kokoh. Mereka paham: kalau bersatu, pembangunan berjalan efisien, konflik bisa dicegah, dan seluruh energi bangsa bisa difokuskan untuk kemajuan. Hal yang sama berlaku bagi kita. Jika kita bersatu, Indonesia menjadi kekuatan besar yang tak mudah digoyahkan. Sebaliknya, kalau terpecah belah, kita jadi rentan tekanan luar dan gagal memanfaatkan kekayaan besar yang kita miliki. Persatuan itu modal sosial yang nilainya jauh lebih mahal dari tambang atau hutan mana pun,” jelasnya.
Konsep ini memiliki landasan kokoh dalam ajaran Ilahiah, tertuang dalam Al‑Qur’an Surah Ali Imran ayat 103:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai‑bercerai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh‑musuhan, lalu Allah menyatukan hatimu, sehingga kamu menjadi bersaudara karena nikmat‑Nya…”
(QS. Ali Imran: 103)
Prinsip kebersamaan ini dipertegas kembali dalam sabda Rasulullah SAW:
“Perumpamaan orang‑orang beriman dalam hal saling menyayangi, mencintai, dan mengasihani adalah bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
“Prinsip ‘satu tubuh’ ini mengajarkan bahwa kerusakan di satu sisi akan terasa dampaknya oleh seluruh bangsa. Keamanan kita adalah keamanan bersama, kemajuan kita adalah kemajuan kolektif. Maka, menjaga persatuan adalah kewajiban moral demi keselamatan kita semua,” tegas Gus. Rochmad Hidayat.
Peran Sahabat Rahmatan Lil Alamin sebagai Perekat Persaudaraan
Sebagai Dewan Pembina Sahabat Rahmatan Lil Alamin, Gus. Rochmad Hidayat menempatkan organisasi ini sebagai garda depan dalam menanamkan nilai persatuan dan kedamaian ke dalam kehidupan masyarakat. Berlandaskan semangat Rahmatan Lil Alamin—menjadi rahmat bagi seluruh alam—organisasi ini bertekad menjadi wadah yang menebar toleransi, manfaat, dan kedamaian.
“Filosofi Sahabat RLA itu sederhana: organisasi sosial harus jadi perekat, bukan pemisah. Kami bergerak mengajak masyarakat menjadi ‘agen perdamaian’. Dalam praktiknya, ini berarti mengedukasi agar cerdas menyikapi berita, mengutamakan musyawarah, dan tegas menolak narasi pemecah belah. Kami meyakini: kemajuan bangsa baru bisa tercapai jika didahului kedamaian hati dan kedamaian sosial. Maka, ikut menjaga persatuan sama artinya ikut membangun peradaban bangsa yang maju,” ujarnya menjelaskan visi organisasi.
Ia juga menekankan pentingnya literasi informasi sebagai tameng utama menghadapi provokasi zaman sekarang. Memastikan kebenaran fakta, berhati‑hati berbicara, dan menyebarkan hal yang bermanfaat dianggapnya sebagai keterampilan sosial wajib bagi warga negara modern.
Penutup: Persatuan adalah Aset Masa Depan
Di akhir pemaparannya, Gus. H. Rochmad Hidayat, S.H. menyimpulkan dengan tegas: menolak provokasi dan menjaga persatuan adalah dua hal yang tak terpisahkan untuk menjamin keamanan dan kemajuan bangsa. Ia mengajak semua pihak—pemimpin, akademisi, tokoh agama, hingga generasi muda—untuk sepakat bahwa persatuan bukan pilihan, melainkan syarat mutlak agar negara ini tetap berdiri.
“Persatuan adalah aset strategis dan syarat utama keamanan nasional. Tanpa itu, semua rencana kemajuan akan rapuh dan mustahil terwujud. Mari kita pegang teguh Bhinneka Tunggal Ika, buang rasa curiga, dan tolak keras segala provokasi perusak kebersamaan. Hanya dengan persatuan yang kokoh, Indonesia bisa sejajar dengan bangsa maju lain, menjamin keamanan seluruh rakyat, dan mewujudkan cita‑cita adil dan makmur. Sejarah akan mencatat: kemajuan Indonesia ditentukan oleh seberapa kuat kita menjaga tali persaudaraan warisan para pendiri bangsa,” tutup Gus. Rochmad Hidayat dengan pesan mendalam dan berwawasan ke depan.
Pemikiran ini menjadi landasan penting yang menempatkan persatuan dan kedamaian sebagai fondasi filosofis, sosial, dan spiritual yang tidak boleh ditawar, dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju masa depan yang gemilang.
(redaksi)
