BANTARGADUNG – Camat Bantargadung, Syarifuddin Rahmat, mendorong adanya penyempurnaan pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayahnya dengan menyesuaikan menu makanan berdasarkan kelompok usia penerima manfaat. Langkah tersebut dinilai penting agar program nasional tersebut semakin efektif dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting.
Menurut Syarifuddin, Program MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang tidak hanya bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi anak, tetapi juga mempercepat penanganan stunting sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat melalui pemberdayaan pelaku usaha lokal.
Di Kecamatan Bantargadung, berbagai upaya penanganan stunting telah dilakukan melalui sinergi antara Program MBG, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari pemerintah desa, serta pendampingan rutin oleh Puskesmas. Namun demikian, angka stunting dinilai masih belum mengalami penurunan yang signifikan sehingga diperlukan evaluasi terhadap pelaksanaan program.
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan bahwa menu makanan bagi baduta usia 6–24 bulan masih disamakan dengan menu balita usia 25–60 bulan maupun siswa Sekolah Dasar (SD). Padahal, kebutuhan gizi pada setiap kelompok usia memiliki komposisi dan tekstur makanan yang berbeda.
“Melalui rapat koordinasi bersama SPPG, kami mengusulkan agar menu makanan dibedakan sesuai kelompok usia. Dengan begitu, manfaat Program MBG dapat lebih optimal dalam mendukung pertumbuhan anak,” ujar Syarifuddin.
Ia menambahkan, sebelumnya Pemerintah Kecamatan Bantargadung juga pernah mengusulkan pemberian susu formula atau susu UHT tertentu sebagai bagian dari intervensi penanganan stunting. Namun pelaksanaannya tetap mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
Karena itu, ia berharap pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diberikan ruang untuk melakukan penyesuaian teknis sesuai kondisi di lapangan tanpa bertentangan dengan ketentuan yang berlaku, sehingga kebutuhan gizi setiap kelompok sasaran dapat terpenuhi secara lebih tepat.
Syarifuddin mengungkapkan, hasil evaluasi tersebut akan disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN), bahkan jika diperlukan hingga kepada Presiden, sebagai masukan untuk penyempurnaan Program MBG secara nasional. Ia juga berharap Kecamatan Bantargadung dapat dijadikan daerah percontohan dalam penerapan evaluasi berbasis kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan data Posyandu, pelaksanaan Program MBG sejauh ini telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan berat badan anak. Namun, pertumbuhan tinggi badan masih memerlukan perhatian melalui pemberian asupan gizi yang lebih sesuai dengan kebutuhan usia.
“Berat badan anak terus menunjukkan peningkatan setiap bulan. Namun untuk pertumbuhan tinggi badan masih perlu intervensi yang lebih tepat melalui penyempurnaan menu MBG dan pendampingan yang lebih intensif dari Puskesmas,” jelasnya.
Selain balita, perhatian juga diarahkan kepada ibu hamil dan ibu menyusui, khususnya yang berisiko mengalami kekurangan gizi. Upaya pencegahan dilakukan melalui pemberian vitamin dan tablet tambah darah guna mencegah lahirnya kasus stunting baru.
Ke depan, Pemerintah Kecamatan Bantargadung akan terus memperkuat koordinasi bersama Puskesmas, pemerintah desa, kader Posyandu, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Tim Pendamping Keluarga (TPK), hingga unsur Linmas untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelayanan Posyandu serta memastikan seluruh intervensi gizi berjalan secara optimal.
Dengan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Syarifuddin optimistis target penurunan angka stunting sebesar 5 persen pada tahun ini dapat tercapai, bahkan berpotensi melampaui target yang telah ditetapkan.
Redaksi
