Komplek Makam Megah Terawat, Dikelola Langsung Abuya Aang Jejen & Keluarga, Dikunjungi Ribuan Peziarah
SUKABUMI, 17 JUNI 2026 – Di pinggiran Sungai Cileuleuy, tepatnya di jantung wilayah Desa dan Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, berdiri megah namun tetap memancarkan kesan sakral sebuah situs sejarah sekaligus pusat kerohanian yang sangat dihormati masyarakat: Komplek Makam Raden K.H. Ki Boros Ngora. Sosok besar yang dikenal juga dengan nama Prabu Sanghyang Boros Ngora atau Prabu Jampang Manggung ini, kini tempat peristirahatan terakhirnya menjadi tujuan ziarah utama yang tak pernah sepi pengunjung siang maupun malam hari.
Keindahan dan keunikan tempat ini langsung terasa sejak pengunjung tiba di gerbang utama. Di pintu masuk, terpahat indah ornamen berupa dua patung harimau putih yang gagah, menjadi ciri khas dan pelindung gerbang, melambangkan wibawa sang pendakwah yang juga berasal dari kalangan bangsawan kerajaan. Melintas gerbang itu, mata akan dimanjakan pemandangan bangunan utama makam yang berarsitektur sangat indah dan kaya hiasan. Dindingnya dihiasi mozaik berwarna‑warni, ukiran kaligrafi, dan atap berlapis warna keemasan serta biru, menyiratkan kemegahan sekaligus keagungan nilai budaya dan agama yang beliau bawa. Tertera jelas lampu‑lampu hias bertuliskan “HAOL MAQBAROH RD.H. KI BOROS NGORA”, menyambut setiap tamu yang datang dengan penuh rasa hormat.
Masuk ke bagian dalam, suasana semakin sakral dan mewah. Area makam disusun dengan ornamen berlapis emas, ubin bermotif indah, dan dinding yang dipenuhi tulisan suci Al‑Qur’an. Di tengah kemegahan itu, terlihat makam sang tokoh yang terawat sangat baik, dikelilingi pagar pembatas yang rapi.
Keistimewaan lain dari situs ini adalah pengelolaannya. Seluruh keindahan, kebersihan, dan kelestarian makam ini kini diurus, dijaga, dan dikembangkan langsung oleh keturunan serta keluarga beliau, yang dipimpin oleh tokoh ulama nasional sekaligus ahli sejarah Islam Nusantara, Abuya KH. Aang Jejen Zaenudin. Beliau bukan hanya berperan sebagai penjaga warisan leluhur, tapi juga menjadi narasumber utama yang merawat alur sejarah dan makna spiritual tempat ini agar tetap hidup dan dikenal generasi penerus.
Setiap harinya, kawasan makam ini dipadati peziarah yang datang bukan hanya dari warga sekitar atau masyarakat Sukabumi, namun juga berdatangan dari berbagai daerah di Jawa Barat, Jabodetabek, wilayah lain di Indonesia, hingga ada yang datang dari negara tetangga. Daya tariknya terletak pada jejak sejarah dakwah yang damai, keagungan akhlak beliau, keindahan bangunan peninggalan yang dijaga lestari oleh keluarga, serta kisah‑kisah karomah yang melekat kuat dan terus hidup dalam percakapan masyarakat turun‑temurun.
Wartawan pun mewawancarai langsung Abuya KH. Aang Jejen Zaenudin di lokasi makam, saat beliau sedang memantau perawatan kawasan bersama anggota keluarga lainnya. Di tengah bangunan megah itu, beliau memaparkan sejarah panjang sosok yang dimakamkan di sini serta tanggung jawab besar yang diemban keluarga.
Berlabuh dan Beristirahat di Tanah Ciambar, Warisan yang Terus Dijaga
Menurut penuturan Abuya Jejen, Raden Boros Ngora adalah putra kedua Prabu Cakradewa, Raja Kerajaan Panjalu, Ciamis. Jiwa pencari kebenaran yang tinggi membuat beliau meninggalkan kemewahan istana, mengembara jauh hingga ke Tanah Suci Mekkah untuk mendalami ilmu agama, lalu pulang membawa misi suci menyebarkan ajaran Islam.
Perjalanan dakwah beliau membawa beliau melintasi berbagai wilayah, hingga akhirnya memilih menetap, mendirikan padepokan, dan menghabiskan sisa hidupnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Ciambar ini. Di tanah inilah beliau mengajarkan ilmu, menyatukan nilai budaya Sunda dengan syariat Islam, hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di tepi Sungai Cileuleuy, Desa Ciambar, Kecamatan Ciambar.
“Kami adalah garis keturunan langsung beliau. Sudah menjadi kewajiban dan amanah besar bagi saya serta seluruh keluarga untuk terus merawat makam ini, menjaga sejarahnya, dan melestarikan ajaran yang beliau wariskan. Sejak kecil, saya sudah diajari bahwa tempat ini bukan sekadar bangunan, tapi jantung sejarah Islam di tanah Sunda. Kami pastikan setiap sudutnya bersih, terawat, dan tetap memancarkan suasana damai seperti saat beliau masih hidup dulu,” urai Abuya Jejen.
Mengenai bentuk bangunan makam yang sangat indah dan megah seperti yang terlihat saat ini, Abuya Jejen menjelaskan bahwa pembangunan dan pemugaran yang dilakukan secara bertahap ini merupakan wujud bakti keluarga dan masyarakat yang dikoordinir langsung oleh beliau.
“Setiap hiasan, setiap ukiran, hingga penataan di dalam makam ini kami kerjakan dengan hati‑hati dan penuh rasa hormat. Kami ingin setiap peziarah yang datang bisa merasakan suasana kemuliaan akhlak beliau. Kemegahan fisik ini hanya cerminan kecil dari kemegahan jiwa dan ilmu yang beliau miliki semasa hidup,” tambahnya, sembari menunjuk bagian dalam makam yang tertata rapi dan bersih berkilau.
Ramai Dikunjungi: Datang Menimba Sejarah dan Keberkahan
Hingga kini, arus peziarah ke makam ini tak pernah surut, baik siang maupun malam hari. Jalan menuju lokasi makam di Kecamatan Ciambar sudah semakin baik dan mudah dijangkau kendaraan, berkat peran aktif Abuya Aang Jejen dan keluarga yang juga mengurus akses jalan demi kenyamanan jamaah. Mulai dari pagi, siang, hingga menjelang malam, orang‑orang terus berdatangan. Terlebih pada hari libur atau tanggal‑tanggal besar Islam, jumlah peziarah bisa mencapai ribuan orang yang memenuhi halaman makam, dan keluarga selalu siap melayani serta memandu para tamu.
“Mereka datang dari mana saja. Ada rombongan dari Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan, bahkan ada jamaah yang sengaja terbang dari luar negeri. Nama Raden K.H. Ki Boros Ngora sudah sangat meluas. Tugas kami adalah menyambut, memandu sejarah, dan memastikan kenyamanan mereka berziarah. Bagi masyarakat Sunda khususnya warga Ciambar, beliau bukan sekadar pendakwah, tapi leluhur yang membimbing kita menjadi manusia beradab, berbudaya, dan bertaqwa,” jelas Abuya Jejen.
Para pengunjung pun membenarkan. Mereka datang dengan beragam tujuan: ada yang mendoakan, ada yang menelusuri silsilah, ada pula yang datang memohon petunjuk, serta ada yang sekadar mengagumi arsitektur makam yang unik dan sarat makna filosofis, yang dirawat penuh kasih sayang oleh keluarga penerus.
Karomah yang Terkenal dan Masih Terasa
Dalam penjelasannya, Abuya Jejen juga mengisahkan sedikit tentang karomah atau keistimewaan luar biasa yang dimiliki oleh Raden K.H. Ki Boros Ngora, yang menjadi salah satu alasan makamnya senantiasa dirindukan umat.
“Salah satu kisah karomah yang paling masyhur dan sering diceritakan adalah saat beliau baru pulang dari Mekkah, beliau membawa air Zamzam. Air suci itu kemudian beliau percikkan ke tanah sekitar Ciambar, dan di sana muncul mata air yang tak pernah kering hingga sekarang. Air itu dipercaya masyarakat bisa menyembuhkan penyakit dan mendatangkan berkah bagi siapa saja yang mengambilnya dengan hati yang bersih dan berniat baik,” ungkap Abuya Jejen.
Selain itu, dikisahkan pula keistimewaan lain: saat berdakwah, beliau mampu meluluhkan hati para pemuka adat dan masyarakat yang kala itu masih memegang teguh kepercayaan lama, semata‑mata dengan kelembutan dan kebijaksanaan, tanpa sedikit pun menggunakan kekerasan atau paksaan.
Karomah lain yang tak kalah mengagumkan adalah mengenai makam itu sendiri. Konon, meski lokasinya berada di pinggir sungai dan sering terjadi curah hujan tinggi, air bah atau banjir besar tak pernah menyentuh atau merusak makam beliau, seolah ada pelindung tak kasat mata yang senantiasa menjaga tempat peristirahatan orang saleh ini. Bahkan, keindahan bangunan yang ada sekarang pun diyakini tetap lestari dan aman dari segala bencana berkat keberkahan beliau dan kesungguhan keluarga dalam merawat.
“Namun karomah terbesar sesungguhnya adalah dampak ajaran beliau. Beliau mampu menyatukan adat Sunda dengan Islam, membuat keduanya hidup berdampingan dengan damai. Itulah keajaiban yang nyata dan bisa kita rasakan hasilnya sampai hari ini,” tegas Abuya Jejen.
Warisan Abadi, Amanah yang Terus Diemban
Di akhir perbincangan, Abuya KH. Aang Jejen Zaenudin kembali menegaskan komitmennya bersama seluruh keluarga besar untuk terus menjaga warisan ini.
“Mengurus makam ini adalah amanah yang berat namun penuh berkah. Kami pastikan kebersihannya, keindahannya, dan keaslian sejarahnya tetap terjaga. Pesan beliau dulu sederhana: jadilah orang yang bermanfaat. Kami mewujudkannya lewat merawat tempat ini agar bisa memberi manfaat bagi siapa saja yang datang. Datanglah ke sini untuk meneladani: beliau adalah seorang pangeran yang rela meninggalkan kemewahan demi mencari kebenaran, pemimpin yang mengutamakan ilmu dan akhlak,” pungkas Abuya Jejen di depan makam leluhurnya.
Kini, kompleks makam yang memadukan nilai sejarah, agama, seni budaya, dan kasih sayang keluarga ini terus berdiri megah. Di bawah tangan dingin Abuya KH. Aang Jejen Zaenudin dan keluarga, jejak sejarah emas penyebaran Islam di tanah Pasundan ini tetap lestari, menjadi pelajaran berharga, dan senantiasa menjadi tempat yang dirindukan umat.
(Tim Redaksi)
