Menjadi Sumber Manfaat Seluruh Alam Merujuk Ulama Agung
Sukabumi, 30 Juni 2026 – Jalan menuju Allah bukan sekadar perjalanan jasmani, melainkan perjalanan rohani membersihkan hati dari segala selain-Nya. Inilah inti sari ilmu tasawuf dan dzikir yang dikembangkan Abuya Dr. KH. Aang Jejen Zaenudin, berlandaskan ajaran Imam Al-Ghazali, Imam Junaid Al-Baghdadi, serta Madrasah dan Thariqah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Bagi beliau, hakikat tarekat adalah mengubah diri, hingga setiap keberadaan senantiasa memancarkan cahaya kebaikan.
Langkah Sistematis Menuju Kedekatan Ilahi
Dalam bimbingan Madrasah Ilmu Dzikir Thariqah Qodiriyah Wanaqsabandiyyah, setiap orang yang melangkah diawali dengan pengukuhan hati melalui baiat kepada Syekh Mursyid yang masih hidup. Ikrar ini adalah perjanjian batin untuk setia pada petunjuk guru, menjadikan arahan madrasah sebagai peta jalan agar tidak tersesat dalam menempuh perjalanan panjang menuju Sang Pencipta.
Setelah ikrar terjalin, murid pun membasah diri dalam samudra ilmu. Hadir dalam majelis pengajian untuk menerima ilmu riwayah, meneruskan mata rantai sanad yang bersambung hingga ke sumber aslinya. Di sana dikaji kitab-kitab tasawuf, panduan amal ibadah, serta tata cara dzikir yang benar. Ilmu itu pun tidak berhenti sekadar tertulis, melainkan diperdalam maknanya melalui ilmu dirayah, memahami rahasia dan istilah tarekat, serta menjadikan nasihat guru sebagai sarana memoles hati agar bersih dan berakhlak mulia.
Pembinaan pun berlanjut secara berkelanjutan melalui kurikulum manhaj amaliyah, mencakup tingkatan pokok maupun tambahan. Murid dibimbing hingga menerima ijazah dzikir Laa ilaaha illallah, tujuh latifah, dua puluh muraqabah, hingga tanda pengakuan hirqah. Seluruh latihan ini ditempa dengan niat tulus, melahirkan sikap hidup yang senantiasa berkhidmat dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Jalan Mutabarohan: Hakikat Keberkahan yang Mengalir
Satu hal yang menjadi sorotan utama adalah keistimewaan Jalan Mutabarohan, yang menurut Abuya memiliki ciri khas berbeda secara mendasar dibandingkan jalan lainnya. Jika pada umumnya perjalanan rohani berfokus pada upaya menyelamatkan dan menyempurnakan diri sendiri, maka Jalan Mutabarohan memiliki cakupan yang jauh lebih luas: diri disucikan bukan semata demi keselamatan pribadi, melainkan agar layak menjadi wadah yang menampung rahmat Allah, lalu mengalirkannya ke seluruh makhluk tanpa batas.
Pada jalan ini, dzikir telah menyatu dengan denyut kehidupan. Ia tidak lagi sekadar ucapan lisan yang diulang-ulang, melainkan keadaan hati yang senantiasa hadir di hadapan-Nya. Baik saat bekerja, beristirahat, maupun berinteraksi, kesadaran akan kehadiran Allah senantiasa menyertai, sehingga setiap perbuatan menjadi ibadah yang membawa berkah.
Pandangan terhadap ujian hidup pun telah berubah. Segala cobaan tidak lagi dipandang sebagai beban yang harus ditahan, melainkan dimaknai sebagai proses penyucian yang justru mempercepat kematangan jiwa. Kekuatan yang mendukung langkah ini pun bukan hanya berasal dari usaha masa kini, melainkan didorong oleh aliran berkah yang tak terputus dari doa dan kesucian para Waliyullah terdahulu.
Pada akhirnya, perbedaan yang paling nyata terlihat: jalan lain mengantarkan hamba pulang menghadap Tuhannya, sedangkan Jalan Mutabarohan menjadikan hamba itu sendiri sebagai tempat berpulang dan sumber kebaikan, yang keberkahannya dapat dirasakan oleh siapa saja yang mendatanginya.
Pesan Penutup
“Maka berpeganglah pada jalan yang sanadnya lurus, tempuhlah dengan hati yang tulus. Niscaya engkau tidak hanya sampai pada kedamaian diri, namun juga menjadi jembatan rahmat bagi sekalian alam,” demikian pesan Abuya menutup ajaran ini.(red)
