Tantangan, Transformasi, dan Peluang Emas Menuju 2030.
Jakarta, 12 Mei 2026 – Di tengah gejolak ekonomi global, ketidakpastian harga komoditas, dan perubahan pola perdagangan dunia, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang patut diperhitungkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat mencapai 5,1 persen, sedikit melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya namun tetap berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Tenggara.
Angka ini memicu beragam pandangan: apakah ini tanda kekuatan fundamental ekonomi nasional, atau sekadar efek sisa kenaikan harga komoditas masa lalu? Untuk membedah kondisi ini secara mendalam, kami mewawancarai Dr. H. Sopyan Iskandar, S.E., S.H., M.M., Akt., seorang pakar ekonomi dan kebijakan publik yang telah lama mengkaji dinamika ekonomi makro dan pembangunan nasional. Berikut adalah uraian wawancara dan analisis mendalam terkait arah, tantangan, serta prospek ekonomi Indonesia ke depan.
Pertumbuhan 5,1 Persen: Antara Ketahanan dan Tantangan
Menanggapi capaian pertumbuhan ekonomi kuartal awal tahun 2026, Dr. Sopyan Iskandar menilai angka tersebut merupakan hasil ganda: bukti kekuatan ekonomi domestik sekaligus peringatan akan tantangan yang mulai terasa.
“Pertumbuhan 5,1 persen adalah angka yang masih sangat baik, bahkan membanggakan jika kita bandingkan dengan banyak negara maju yang hanya tumbuh di kisaran 1–2 persen, atau bahkan mengalami kontraksi. Ini membuktikan bahwa ekonomi Indonesia memiliki fundamental yang kokoh, didorong oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, investasi yang mulai membaik, serta belanja pemerintah yang tetap berjalan untuk pembangunan infrastruktur,” ungkap Dr. Sopyan di ruang kerjanya.
Namun, ia mengingatkan agar tidak terlena. Pertumbuhan yang sedikit melambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menurutnya, adalah sinyal adanya tekanan dari faktor eksternal dan belum optimalnya transformasi ekonomi di dalam negeri.
“Kita harus jujur: pertumbuhan kita masih sangat bergantung pada konsumsi dan komoditas. Saat harga komoditas dunia turun, dampaknya langsung terasa. Selain itu, perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Uni Eropa mulai berdampak pada ekspor kita. Di sinilah tantangan sesungguhnya berada,” tambahnya.
Dr. Sopyan menegaskan, struktur ekonomi Indonesia yang masih berbasis sumber daya alam dan produk mentah membuat posisi tawar di pasar global masih rendah. Nilai tambah yang belum maksimal menjadi salah satu alasan mengapa keuntungan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sektor Unggulan: Penopang Utama dan Masa Depan Ekonomi
Dalam pandangan Dr. Sopyan, ada tiga sektor utama yang menjadi penopang sekaligus penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dan masa depan.
Infrastruktur: Pondasi Efisiensi dan Konektivitas
Pembangunan jalan, pelabuhan, bandara, hingga jaringan energi dan digital yang berjalan bertahun-tahun mulai memberikan dampak nyata bagi perputaran ekonomi.
“Infrastruktur bukan hanya soal jalan mulus, tapi soal efisiensi ekonomi. Biaya logistik yang dulu sangat tinggi kini mulai turun. Ini membuat produk kita lebih murah dan kompetitif. Dampak berganda ini merembet ke sektor pariwisata, pertanian, dan industri. Infrastruktur adalah pondasi agar ekonomi kita bisa tumbuh berkelanjutan,” jelasnya.
Hilirisasi Industri: Kunci Nilai Tambah Kekayaan Alam
Kebijakan pemerintah melarang ekspor bahan mentah dan mewajibkan pengolahan di dalam negeri, menurut Dr. Sopyan, adalah langkah paling tepat dan berani dalam sejarah ekonomi Indonesia.
“Lihat sektor nikel. Dulu kita jual mentah, untungnya sedikit, kerusakan lingkungan besar. Sekarang kita olah jadi bahan baku baterai kendaraan listrik, nilainya puluhan kali lipat. Ini yang kita butuhkan di semua sektor: bauksit, tembaga, sawit, hingga hasil laut. Hilirisasi adalah kunci agar kekayaan alam kita menjadi kemakmuran jangka panjang, bukan sekadar keuntungan sesaat,” ujar pakar ekonomi lulusan bidang akuntansi dan manajemen ini.
Ekonomi Digital: Peluang Baru Berbasis Teknologi
Indonesia disebut sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Pertumbuhan perdagangan daring, jasa keuangan digital, hingga teknologi keuangan berkembang sangat pesat menjadi kekuatan baru.
“Generasi muda kita sangat adaptif terhadap teknologi. Ini modal besar. Namun, tantangannya sekarang adalah bagaimana menjadikan ekonomi digital ini pencipta lapangan kerja berkualitas, bukan sekadar pasar jual beli. Kita harus dorong startup dan industri teknologi buatan anak bangsa, agar keuntungan dan data tetap ada di tangan kita,” tegasnya.
Tantangan Besar: Ketimpangan, SDM, dan Iklim Usaha
Meski pertumbuhan ekonomi tetap positif, Dr. Sopyan mengakui masih ada masalah mendasar yang belum tuntas dan menjadi penghambat utama: pengangguran, ketimpangan pendapatan, dan kualitas sumber daya manusia.
“Ada paradoks menarik: ekonomi tumbuh, tapi masih banyak orang yang belum merasakan dampaknya. Angka pengangguran terbuka memang menurun, tapi pekerjaan yang tersedia banyak yang bersifat informal, berpendapatan rendah, dan tidak memiliki kepastian jaminan kerja. Ketimpangan antarwilayah juga masih terlihat jelas — Jawa tumbuh cepat, wilayah lain masih tertinggal,” ungkapnya.
Transformasi SDM: Kebutuhan Utama Jangka Panjang
Menurutnya, akar masalahnya terletak pada kualitas Sumber Daya Manusia. Dunia industri kini berubah cepat dengan otomatisasi dan teknologi canggih, namun keterampilan tenaga kerja kita belum sepenuhnya siap.
“Kita butuh transformasi besar di dunia pendidikan dan pelatihan. Kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan industri. Pendidikan vokasi harus diperkuat. Ekonomi maju tidak dibangun dengan tenaga kerja murah, tapi dengan tenaga kerja terampil, inovatif, dan berdaya saing. Jika ini tidak diperbaiki, kita akan terjebak dalam pertumbuhan rendah dan posisi ekonomi negara berpenghasilan menengah saja,” peringatnya.
Kepastian Hukum dan Birokrasi: Syarat Masuknya Investasi
Selain itu, birokrasi yang masih berbelit dan ketidakpastian hukum masih menjadi keluhan utama investor, baik dalam negeri maupun luar negeri. Dr. Sopyan menekankan, kemudahan berusaha harus diiringi kepastian hukum agar investasi masuk dan bertahan lama.
Prospek 2026–2030: Potensi Menjadi Kekuatan Ekonomi Dunia
Menutup pembicaraan, Dr. H. Sopyan Iskandar memberikan pandangan optimis namun tetap realistis mengenai prospek ekonomi Indonesia hingga akhir dekade ini.
“Jika kebijakan hilirisasi, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan SDM terus konsisten dijalankan, saya sangat yakin Indonesia bisa tumbuh di kisaran 5,3 – 5,8 persen per tahun hingga tahun 2030. Bahkan, potensi besar kita untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok global, khususnya di sektor energi baru terbarukan dan bahan baku industri strategis, bisa mendorong pertumbuhan lebih tinggi lagi,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi negara maju dalam kurun waktu 10–15 tahun ke depan, namun syaratnya satu: konsistensi dan keberpihakan pada rakyat.
“Ekonomi bukan sekadar angka di kertas. Pertumbuhan harus dirasakan oleh petani, nelayan, buruh, dan pengusaha kecil. Ekonomi harus berkeadilan. Jika kita mampu menjaga stabilitas politik, hukum, dan ekonomi, serta fokus pada pembangunan manusia, Indonesia bukan hanya akan menjadi ekonomi terbesar ke-4 atau ke-5 dunia, tapi juga negara yang makmur, berdaulat, dan berkeadilan sosial,” pungkas Dr. H. Sopyan Iskandar.(red)
