Korban Lapor Polisi dan Jalani Visum, Pihak Kampus Siap Berikan Pendampingan Hukum
SURABAYA, 24 MEI 2026 – Sebuah kasus kekerasan jalanan kembali mengguncang Kota Surabaya. Seorang remaja berinisial AB menjadi korban aksi pengeroyokan yang dilakukan sekelompok pemuda, bermula dari tantangan untuk berduel yang disampaikan melalui pesan pribadi di media sosial Instagram. Akibat peristiwa tersebut, korban telah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian dan berharap seluruh pelaku dapat segera ditindak sesuai hukum yang berlaku.
Kejadian tersebut berlangsung pada hari Kamis, 14 Mei 2026. Awal mula perselisihan terjadi ketika AB menerima pesan masuk atau Direct Message dari seorang perempuan berinisial NS. Dalam pesan tersebut, NS menyampaikan informasi bahwa ada pihak lain yang ingin menantang AB untuk berkelahi.
“Saya mendapat pesan di Instagram yang dikirim oleh seorang wanita bernama NS. Ia memberitahu bahwa ada sekelompok pria yang menantang saya untuk duel,” ungkap AB saat memberikan keterangan pada Kamis, 22 Mei 2026.
Pada awalnya, korban sama sekali tidak menanggapi ajakan tersebut dan menganggapnya hanya sebagai gurauan belaka. “Saya tidak menanggapi tantangan itu. Saya kira itu hanya candaan yang tidak perlu diperdulikan atau ditanggapi serius,” jelasnya.
Namun sikap diam dari korban justru memicu tindakan yang semakin tajam. Salah satu pihak yang menantangnya, yang diketahui berinisial AA, terus melakukan provokasi secara berulang‑ulang. Bahkan, provokasi tidak hanya dilakukan melalui media sosial, melainkan juga dikirimkan pesan melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp yang dikirimkan oleh teman adik kandungnya, dengan ajakan untuk datang ke sebuah tempat di kawasan Wiyung, Surabaya.
Atas desakan dan ajakan yang terus datang, AB akhirnya memutuskan untuk menemui mereka di pinggir jalan Mayjen Jonosewojo, tepatnya di dekat gerai makanan cepat saji McDonald’s Graha Family. Namun harapan untuk menyelesaikan masalah dengan baik ternyata tidak terpenuhi. Sesampainya di lokasi, korban justru langsung diserang dan dikeroyok oleh AA serta rombongannya.
“Saat saya sampai di tempat itu, bukannya menyelesaikan masalah, saya malah langsung dikeroyok oleh AA dan teman‑temannya. Selama dipukuli, saya juga terus mendapatkan kata‑kata intimidasi dari mereka,” ungkap AB menceritakan kronologi mengerikan tersebut.
Aksi kekerasan yang terjadi di tempat terbuka itu segera menarik perhatian warga sekitar, hingga akhirnya dua petugas keamanan yang bertugas di lokasi datang untuk melerai dan menghentikan perkelahian tersebut. “AA menghajar saya habis‑habisan, namun tidak lama kemudian datang petugas keamanan yang berhasil memisahkan kami,” tambahnya.
Tak tinggal diam atas perlakuan yang diterima, korban secara resmi melaporkan seluruh kejadian tersebut ke kantor Kepolisian Resor Kota (Polrestabes) Surabaya. Saat ini, AB juga telah menjalani pemeriksaan visum et repertum untuk mendapatkan bukti medis yang sah guna keperluan proses penyelidikan dan penuntutan hukum.
Melalui pernyataannya, AB berharap pihak kepolisian dapat segera bekerja cepat mengidentifikasi, menangkap, dan memproses hukum seluruh pihak yang terlibat, terutama AA yang dianggap sebagai pelaku utama dalam peristiwa tersebut.
Selain dukungan dari keluarga, korban juga menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar‑besarnya kepada Universitas Surabaya (Ubaya). Pihak kampus diketahui telah memberikan dukungan penuh serta menyatakan kesiapannya untuk mendampingi secara hukum selama proses penanganan kasus ini berlangsung.
(Redaksi)
